Menuju Kongres & MPA Ruteng, Ferdy Ate Luncurkan Buku “Amor et Ratio”: Manifesto Liturgi Jalanan dan Panca Dharma

0
Ferdi-Ate-

PMKRI NASIONAL - JAKARTA Menjelang perhelatan Kongres XXXIV & Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) XXXIII PMKRI di Ruteng, Ferdinandus Wali Ate, S.Farm., resmi meluncurkan buku manifestonya yang bertajuk ”Amor et Ratio”._

Buku ini hadir bukan sekadar sebagai instrumen politik, melainkan sebuah otokritik dan peta jalan (blueprint) untuk memulihkan nalar kritis perhimpunan yang dinilai sedang mengalami disorientasi.

Dalam peluncurannya, Ferdy Ate melakukan bedah tuntas terhadap kondisi organisasi dalam tiga dimensi waktu. Ia memandang bahwa jika kemarin PMKRI dikenal sebagai rahim intelektual yang disegani, maka hari-hari ini perhimpunan sedang terjebak dalam arus pragmatisme dan krisis identitas yang menjauhkan kader dari akar rumput.

“PMKRI masa depan tidak boleh lagi sekadar mengekor pada kepentingan kekuasaan. Kita harus bertransformasi menjadi organisasi yang tegas dalam gagasan dan militan dalam pengabdian melalui Panca Dharma,” tegas Ferdy.

Teladan Yesus dan Liturgi Jalanan

Substansi utama buku ini memperkenalkan konsep Liturgi Jalanan, sebuah paradigma gerakan yang berakar pada nilai-nilai Kekatolikan. Ferdy memposisikan Yesus Kristus sebagai teladan gerakan yang sempurna; seorang pribadi yang radikal dalam membela martabat manusia, namun tetap berpijak pada hukum kasih.

“Aktivisme kita adalah bentuk ibadah nyata. Teladan Yesus mengajarkan bahwa perlawanan terhadap ketidakadilan harus dipandu oleh _Amor_ (Kasih) dan _Ratio_ (Akal Budi). Di sinilah Liturgi Jalanan mengambil peran dengan menjadikan setiap advokasi sebagai perpanjangan tangan gereja untuk melayani mereka yang terpinggirkan,” jelas kandidat Apoteker ini.

Panca Dharma Transformasi

Sebagai jawaban atas tantangan era disrupsi, Ferdy menawarkan Panca Dharma sebagai cetak biru transformasi. Poin-poin ini mencakup digitalisasi tata kelola, kemandirian ekonomi, hingga riset kebijakan publik. Ferdy menekankan pentingnya menjadi “Manusia Merdeka” yang tidak didikte oleh arus apatisme.

Bagi Ferdy, MPA XXXIII Ruteng harus menjadi panggung dialektika. “Hanya ada dua pilihan: menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi saya mengajak seluruh kader untuk memilih jalan ketiga: menjadi intelektual profetik yang merdeka secara nalar dan nurani. Buku ini adalah undangan untuk merayakan kedaulatan berpikir tersebut,” pungkasnya.

Untuk diketahui, Ferdinandus Wali Ate (akrab disapa Ferdy) adalah aktivis literasi digital, pemimpin muda, sekaligus entrepreneur yang berkomitmen mendorong kemajuan pendidikan di Indonesia. Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Farmasi di Universitas Pakuan, Bogor, dan kini sedang melanjutkan pendidikan Profesi Apoteker di Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN) Jakarta.

Perjalanan kepemimpinannya dimulai dari BEM FMIPA Universitas Pakuan (2018–2019) hingga menjabat Menteri Luar Kampus BEM-KBM Universitas Pakuan (2019–2020).

Kiprahnya di PMKRI dimulai sebagai Ketua Presidium PMKRI Cabang Bogor (2021–2022) dan saat ini mengemban amanah sebagai Presidium Hubungan Luar Negeri Pengurus Pusat PMKRI (2024–2026).

Selain itu, Ferdy adalah Founder Komunitas Literasi Nusantara (KLN), sebuah gerakan yang berfokus pada penguatan budaya literasi di era digital.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *