Refleksi 77 Tahun PMKRI: Meneguhkan Martabat, Meraih Kemajuan
Serupa murid-murid Yesus, kita adalah orang-orang yang diutus. Orang-orang yang dipilih dari berbagai latar belakang sosial dan ekonomi.
Saya memilih PMKRI sebagai rumah untuk mengaktifkan harapan, mengokohkan keberpihakan, dan merayakan kemenangan-kemenangan hidup, sesederhana apa pun bentuknya.
Tak hanya saya. Ada banyak orang di rumah ini. Sebuah rumah yang mencerminkan keragaman pikiran, sikap, dan tindakan. Rumah yang mengikat orang-orang di dalamnya melalui persekutuan dan persaudaraan sejati.
Serupa para murid Yesus yang mengikuti "kursus kilat" selama tiga tahun, menemani-Nya dari kampung ke kampung dan berhadapan dengan berbagai persoalan manusia, demikian pula kader PMKRI ditempa untuk bekerja bersama menyelesaikan persoalan.
Hujatan moral digantikan dengan etika kebersamaan yang penuh pengertian. Tujuannya bukan memperlebar perpecahan, melainkan merawat persatuan.
Nama gerakan itu adalah kasih. Kasih yang menubuh dalam diri dan kebersamaan, dalam terang Roh Kudus. Ia tidak mengenal perbedaan jenis kelamin, orientasi seksual, suku, ras, maupun lapisan sosial-ekonomi.
Persekutuan itulah yang perlahan mengubah dunia melalui ketekunan masing-masing dalam menjalani kehidupan. Keyakinan kami sederhana: kasih harus bersifat universal, dinyatakan, ditegakkan, dan terus diperjuangkan di mana pun dan kapan pun, meski untuk itu harus mengambil risiko.
Kami mengamini bahwa demokrasi harus menjadikan politik kasih sebagai panduan untuk belajar dan bertindak. Dari sana, kita membangun demos—komunitas perubahan—dan membentuk barisan para rasul, yakni gerakan kader yang memiliki kesadaran universal.
Menyemai Perubahan
Yesus pernah berkata, "Akulah jalan, kebenaran dan hidup."
Pertanyaannya, apakah Dia masih menjadi panglima dalam perang melawan pemiskinan dan penindasan? Masihkah pelajaran tentang kasih dan keselamatan perlu kita bicarakan dan gunakan untuk mendorong partisipasi serta emansipasi bagi diri sendiri dan mereka yang tertindas, terkucil, dan tertinggal?
Singkat kata, masih perlukah Dia kita jadikan kompas politik perubahan hari ini?
Saya merekam banyak hal baru dan menarik dalam perjalanan PMKRI akhir-akhir ini.
Pertama, isu perempuan mendapat perhatian yang semakin serius. Persoalan kesehatan mental, kekerasan seksual, serta relasi kuasa antara perempuan dan pembangunan menjadi bagian dari diskursus yang penting. Bagi saya, ini merupakan angin segar sekaligus tanda adanya komitmen PMKRI untuk terus menjadi bagian dari gerakan perempuan.
Kedua, isu lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. Diskursus mengenai lingkungan menempatkan persoalan ekologis dan pembangunan ekstraktif sebagai bagian dari konsekuensi perilaku konsumsi yang tidak terkendali.
Bagi saya, ini merupakan temuan sekaligus jalan keluar yang menarik. Hedonisme dan konsumerisme yang tidak terkendali pada akhirnya ikut mendorong eksploitasi alam dan membuat hutan terus digunduli.
Ketiga, demokrasi digital.
Kehadiran teknologi digital memang memiliki dua wajah. Di satu sisi, ia membuka peluang yang luas. Di sisi lain, ia menghadirkan ancaman dan kecemasan baru.
Namun, PMKRI perlu terus merawat sikap kritis agar tidak sekadar menjadi subjek pasif dalam pemanfaatan dan penggunaan teknologi digital. Kader harus menjadi bagian yang mampu menentukan arah, bukan sekadar mengikuti arus perubahan teknologi.
Mengaktifkan Harapan
Jika mencintai PMKRI adalah sebuah kesalahan, setidaknya dari kesalahan itu lahir pengalaman, pembelajaran, dan perjumpaan. Juga tentang rasa: cemburu, bahagia, marah, duka, hingga air mata.
Tidak semuanya mudah dipahami. Tidak pula semuanya mudah dimengerti.
Yang pasti, PMKRI adalah rumah dengan beragam kisah dan peristiwa. Rumah yang terus bertumbuh melalui perjumpaan, perdebatan, kegembiraan, dan pergulatan para kadernya.
Karena itu, kepada seluruh kader PMKRI, mari terus meneguhkan martabat, meraih kemajuan, dan menyemai perubahan.
Perubahan bukan sekadar menginterupsi kekuasaan yang timpang. Perubahan juga berarti meneguhkan institusi yang mampu mengabadikan praktik-praktik kebaikan dan merawat kemenangan-kemenangan sederhana.
Dirgahayu PMKRI ke-77 tahun.
Memilikimu seperti rahim memeluk janin: menjaga, menghidupi, sekaligus mempersiapkan kehidupan untuk tumbuh dan menghadapi dunia.
