Restu Hapsari di POF PP PMKRI: Organisasi Kuat Bukan karena Satu Orang Hebat, tetapi Tim yang Solid

0
WhatsApp Image 2026-10-17 at 11.08.19

Foto: Dok. PP PMKRI

PMKRI Nasional - Jakarta, Kekuatan sebuah organisasi tidak ditentukan oleh kehebatan seorang pemimpin semata, melainkan oleh kemampuan membangun kerja sama tim, sistem manajemen yang sehat, serta proses kaderisasi yang berkelanjutan.

Pesan tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan yang disampaikan M.M. Restu Hapsari dalam materi bertajuk Teamwork dan Manajemen Organisasi pada kegiatan Pekan Orientasi Fungsionaris (POF) Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI) St. Thomas Aquinas Periode 2026–2028, Sabtu (17/10/2026).

Dalam materi yang dipaparkan, Restu menekankan bahwa keberhasilan organisasi tidak seharusnya bergantung pada kemampuan individu tertentu. Sebaliknya, organisasi perlu memiliki sistem kerja yang memungkinkan setiap pengurus menjalankan tanggung jawab secara terukur dan saling mendukung.

"Organisasi kuat bukan karena satu orang hebat. Organisasi kuat karena tim yang solid, sistem yang sehat, dan kader yang konsisten menghidupi nilai perjuangan," demikian salah satu pesan utama dalam materi Restu.

Menurut kerangka yang disampaikannya, kerja sama tim, penguatan sistem, dan kaderisasi merupakan tiga unsur yang harus berjalan beriringan. Ketiganya diperlukan agar organisasi tidak hanya mampu menjalankan program, tetapi juga menjaga kesinambungan gerakan.

Soliditas Organisasi Tidak Berarti Harus Selalu Sepakat

Salah satu persoalan yang mendapat perhatian dalam materi tersebut adalah kecenderungan organisasi menghadapi konflik internal akibat ego jabatan, persaingan pengaruh, lemahnya komunikasi, hingga ketidakjelasan pembagian kewenangan.

Kondisi tersebut berpotensi menghambat pelaksanaan program, terutama ketika setiap bidang bekerja secara terpisah tanpa koordinasi yang memadai.

Restu melalui materinya mengingatkan bahwa soliditas organisasi tidak dapat dimaknai sebagai keadaan ketika seluruh pengurus selalu memiliki pandangan yang sama.

"Soliditas bukan berarti selalu sepakat. Soliditas berarti mampu berbeda pendapat, memutuskan bersama, dan bertanggung jawab," demikian penegasan dalam bahan presentasinya.

Pandangan tersebut menempatkan perbedaan pendapat sebagai bagian dari dinamika organisasi yang perlu dikelola secara dewasa. Konflik, dalam kerangka ini, bukan semata-mata persoalan yang harus dihindari. Perbedaan justru dapat menjadi kesempatan memperjelas persoalan, memperbaiki proses pengambilan keputusan, dan membangun kepercayaan antarpengurus.

Karena itu, penyelesaian konflik perlu dilakukan dengan memisahkan persoalan dari pribadi, mengidentifikasi fakta dan akar masalah, membuka ruang dialog, serta menyepakati tindak lanjut yang dapat dievaluasi.

Dorong Pengurus Tinggalkan Budaya Kerja yang Bergantung pada Figur

Selain menyoroti kerja sama tim, materi Restu juga menekankan pentingnya pembenahan manajemen organisasi. Pengurus didorong menerapkan siklus manajemen yang mencakup perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan atau Planning, Organizing, Actuating, Controlling (POAC).

Melalui pendekatan tersebut, setiap program organisasi diharapkan memiliki tujuan, pembagian tanggung jawab, kebutuhan sumber daya, serta indikator keberhasilan yang jelas.

Restu juga memperkenalkan kerangka pembagian peran RACI, yakni Responsible, Accountable, Consulted, dan Informed. Model tersebut dapat digunakan untuk memperjelas siapa yang melaksanakan pekerjaan, siapa yang bertanggung jawab atas hasil akhir, serta pihak yang perlu dilibatkan dalam konsultasi dan penyampaian informasi.

Penguatan sistem ini dinilai penting untuk mencegah pekerjaan yang tumpang tindih, ketidakjelasan kewenangan, dan ketergantungan berlebihan terhadap individu tertentu.

Dalam materi tersebut, Restu turut menyoroti budaya rapat yang kerap berhenti pada pembahasan tanpa menghasilkan tindak lanjut yang terukur.

"Rapat bukan tujuan, keputusan dan tindak lanjut adalah tujuan," demikian pesan yang tercantum dalam presentasinya.

Karena itu, setiap rapat perlu menghasilkan keputusan yang disertai penanggung jawab, batas waktu pelaksanaan, serta mekanisme evaluasi.

Kaderisasi Harus Melahirkan Keberlanjutan Gerakan

Lebih jauh, Restu menempatkan kaderisasi sebagai salah satu fondasi penting dalam membangun organisasi yang berkelanjutan. Dalam konteks PMKRI, penguatan organisasi perlu berangkat dari nilai Kristianitas, Intelektualitas, dan Fraternitas.

Ketiga nilai tersebut tidak cukup dipahami sebagai identitas formal organisasi, tetapi perlu tercermin dalam sikap, keputusan, dan tindakan setiap fungsionaris.

Kristianitas diwujudkan melalui pelayanan, integritas, dan keberpihakan pada keadilan. Intelektualitas dikembangkan melalui kemampuan berpikir kritis, membaca persoalan sosial, dan merumuskan solusi berdasarkan data. Sementara itu, Fraternitas menjadi dasar untuk membangun solidaritas, dialog, serta kepercayaan di antara kader.

Dalam materi bertema Dari Nilai ke Aksi, dari Aksi ke Dampak tersebut, Restu menggarisbawahi bahwa keberhasilan organisasi harus dilihat dari sejauh mana nilai-nilai perjuangan diterjemahkan menjadi kerja nyata yang bermanfaat bagi masyarakat.

Ia juga mengusulkan empat agenda prioritas bagi kepengurusan PP PMKRI Periode 2026–2028, yakni konsolidasi organisasi, penguatan intelektualitas, gerakan sosial, dan kaderisasi.

Keempat agenda itu dipandang saling berkaitan. Konsolidasi diperlukan untuk memperkuat koordinasi pusat dan cabang, intelektualitas menjadi landasan produksi gagasan, gerakan sosial memastikan keberpihakan kepada masyarakat, sementara kaderisasi menjamin keberlanjutan kepemimpinan organisasi.

Restu juga menempatkan keterbukaan terhadap kritik, kedisiplinan menjalankan mandat, penghormatan terhadap perbedaan, serta kemampuan membangun kader baru sebagai komitmen yang perlu dimiliki setiap pengurus.

Pada bagian akhir materinya, ia mengajak fungsionaris PP PMKRI untuk tidak membatasi keberhasilan kepengurusan pada kelengkapan struktur dan terlaksananya program kerja.

"Jangan hanya membangun kepengurusan, bangunlah gerakan," demikian pesan penutup dalam presentasinya.

Pesan tersebut diperkuat dengan penegasan bahwa kerja sama tim memberikan kekuatan, manajemen organisasi memberikan arah, dan kaderisasi menjaga keberlanjutan.

Melalui pembekalan ini, POF PP PMKRI 2026–2028 diharapkan menjadi ruang untuk memperkuat kesepahaman antarfungsionaris sekaligus merumuskan sistem kerja yang lebih terarah, akuntabel, dan berorientasi pada kontribusi nyata bagi Gereja dan bangsa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *