SEPAK BOLA & PRIMORDIALISME

0
WhatsApp Image 2026-10-06 at 11.26.09

Identitas, Fanatisme, dan Ruang Persatuan

Sepak bola di Indonesia tidak hanya menjadi olahraga, tetapi juga ruang sosial tempat identitas, solidaritas, kebanggaan, dan rasa memiliki terhadap bangsa bertemu.

Ketika Tim Nasional Indonesia bertanding, masyarakat dari berbagai latar belakang dapat menemukan titik temu melalui simbol yang sama: Garuda, jersey, bendera, dan semangat kebangsaan.

Fenomena ini menarik dilihat dari perspektif primordialisme, yaitu keterikatan seseorang terhadap identitas yang berkaitan dengan asal-usul, seperti suku, agama, daerah, bahasa, dan kekerabatan. Identitas primordial dapat menjadi sumber solidaritas, tetapi dalam situasi tertentu juga dapat menjadi batas sosial. Dalam sepak bola nasional, batas-batas tersebut dapat dinegosiasikan dan melampaui identitas kelompok ketika masyarakat menemukan identitas kebangsaan yang lebih luas.

Dalam pandangan antropologi, identitas tidak berdiri sendiri. Identitas terbentuk, dipelihara, dan diperkuat melalui interaksi sosial, simbol, pengalaman bersama, serta rasa memiliki terhadap suatu kelompok. Identitas juga bersifat kontekstual dan dapat berubah sesuai ruang sosial yang dihadapi seseorang. Karena itu, seseorang dapat memiliki lebih dari satu identitas tanpa harus kehilangan identitas lainnya.

Dalam konteks ini, sepak bola menjadi salah satu ruang sosial yang memungkinkan berbagai identitas tersebut bertemu dalam pengalaman bersama. Seseorang tidak harus meninggalkan identitas asalnya untuk menjadi bagian dari Indonesia. Ia tetap membawa budaya, daerah, agama, dan latar belakangnya, tetapi ketika mendukung Tim Nasional, berbagai identitas tersebut dapat menemukan ruang kebersamaan dalam identitas kebangsaan.

Di sinilah sepak bola memiliki fungsi sosial. Nasionalisme tidak selalu hadir melalui pidato atau simbol-simbol formal, tetapi juga melalui hal-hal sederhana: mengenakan jersey, menonton pertandingan bersama, menyanyikan lagu kebangsaan, mengibarkan bendera, dan merasa bangga ketika Indonesia tampil.

Namun, nasionalisme perlu dibedakan dari fanatisme. Mencintai bangsa sendiri tidak berarti harus membenci bangsa lain. Dukungan terhadap Tim Nasional seharusnya dapat berjalan bersama dengan sikap menghormati lawan. Fanatisme yang berlebihan justru dapat mengubah olahraga dari ruang kebersamaan menjadi ruang konflik.

Pada akhirnya, sepak bola memberikan gambaran sederhana tentang masyarakat yang plural: kita tidak harus memiliki asal-usul yang sama untuk merasakan kebersamaan.

Primordialisme dan nasionalisme tidak selalu berada dalam posisi yang berlawanan. Identitas suku, agama, daerah, dan latar belakang tetap melekat pada setiap individu, tetapi identitas tersebut tidak harus menjadi batas yang memisahkan. Berbagai identitas dapat menemukan titik temu dalam identitas kebangsaan yang lebih besar.

Dalam konteks Indonesia yang majemuk, sepak bola menunjukkan bahwa perbedaan tidak selalu harus dihapus untuk menciptakan persatuan. Yang dibutuhkan adalah ruang bersama tempat berbagai identitas dapat hadir, berinteraksi, dan menemukan rasa memiliki yang sama: Indonesia.

Penulis : Wily Simbolon, S. Sos
Demisioner Sekjend PMKRI Cabang Medan Santo Bonaventura periode 2025 - 2026.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *