Investor Disebut Saudara, Warga Halmahera Dilupakan: PP PMKRI Bedah Pidato Presiden di Weda Bay
Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI), Jakarta, 9 Oktober 2026 — Pidato Presiden Prabowo Subianto di Weda Bay kemarin menyajikan hilirisasi nikel sebagai jalan menuju masa depan yang cerah, tetapi melewatkan kenyataan yang dialami warga di sekitar kawasan industri. PP PMKRI menyandingkan enam pokok pidato itu dengan data dan kesaksian warga yang belum terucapkan di podium.
Pada Kamis, 8 Oktober 2026, Presiden meresmikan 11 proyek hilirisasi nikel senilai US$10,2 miliar (sekitar Rp180 triliun) dan melepas ekspor perdana baterai kendaraan listrik di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah, Maluku Utara. Dalam pidatonya, Presiden menyebut masa depan Indonesia cerah, menyebut investor sebagai saudara, dan memuji pekerja Indonesia Timur sebagai pekerja keras yang setia.
Kami tidak menyangkal bahwa investasi dan pertumbuhan ekonomi di Maluku Utara memang melonjak. Yang kami persoalkan adalah apa yang tidak disebut: siapa yang menanggung biaya pertumbuhan itu, dan di mana warga Halmahera dalam cerita pembangunan ini.
“Yang cerah baru angka investasinya. Di kampung-kampung sekitar IWIP, warga kehilangan kebun, air bersih, dan kesehatannya, tapi semua itu tidak disebut satu kalimat pun di podium,” kata Natael Bremana WB, Presidium Gerakan Kemasyarakatan PP PMKRI 2026–2028.
Enam ucapan, enam hal yang belum terucapkan
Setiap pokok pidato kami uji dengan data resmi, riset, liputan media, dan kesaksian warga.
| Di podium | Yang belum terucapkan |
| “Saya lihat masa depan Indonesia cerah.” | Ekonomi Maluku Utara tumbuh 32,09% pada kuartal II 2025, tetapi kemiskinannya stagnan di kisaran 6,5% sejak 2012. Produksi kelapa Halmahera Tengah anjlok dari 10.321 ton (2018) menjadi 1.835 ton (2022), pala dari 13.312 ton menjadi 1.485 ton. Warga yang dulu memetik dari kebun kini membeli pangan di pasar. |
| Hilirisasi agar kekayaan alam untuk kesejahteraan rakyat. | Tanah warga umumnya dibeli Rp6.000–12.000 per meter, jauh di bawah NJOP Rp32.000. Mediasi 2018 menghasilkan tali asih Rp2.500 per meter. Ada kebun yang digusur tanpa ganti rugi, dan warga yang memimpin tuntutan ganti rugi |
| Pengembangan IWIP menyerap lebih dari 100 ribu tenaga kerja. | pernah dipenjara pada 2013.Porsi pekerja lokal tidak pernah dibuka ke publik. Minimal 31 pekerja tewas dalam kecelakaan kerja sejak 2018, dengan shift 12 jam atau sekitar 60 jam per minggu. Belum ada satu pun penyakit akibat kerja yang didiagnosis di sektor nikel Maluku Utara. |
| “Yang percaya sama Indonesia… kita anggap saudara.” | Riset Nexus3 dan Universitas Tadulako menemukan 47% warga Gemaf dan Lelilef yang diperiksa punya kadar merkuri dalam darah di atas batas aman. Sumur warga menjadi asin, dan sekitar 40% wilayah adat O’Hongana Manyawa masuk konsesi tambang tanpa persetujuan mereka. |
| “Orang Indonesia Timur kerjanya keras… setia.” | Pekerja bekerja di suhu di atas 40°C dan kebisingan di atas 90 desibel. Korban kecelakaan maut pada 2026 termasuk pekerja asal Tual dan Kepulauan Sula. Yang dibutuhkan adalah batas jam kerja dan jaminan keselamatan, bukan tambahan jatah makan. |
| Bantahan atas ramalan “Indonesia kolaps”. | Kasus ISPA di wilayah Puskesmas Lelilef naik dari ratusan menjadi ribuan. Empat desa di sekitar IWIP terendam banjir pada Juli 2024, dan banjir besar melanda Kota Weda pada Juni 2026 hingga pasien RSUD dievakuasi. |
Perusahaan dan pemerintah daerah membantah sebagian temuan ini. DLH Halmahera Tengah menyatakan uji air laut 2024 menunjukkan kualitas baik, dan IWIP menyebut keselamatan pekerja sebagai prioritas.
Warga hanya muncul sebagai tenaga kerja
Di sepanjang pidato, warga Halmahera hanya disebut sebagai angka tenaga kerja dan sebagai “orang Timur yang setia”. Mereka tidak hadir sebagai pemilik tanah, petani, nelayan, masyarakat adat, atau pihak yang berhak setuju dan menolak.
Kesaksian warga menunjukkan apa yang hilang dari cerita itu. “Sekarang mau makan pisang dan kasbi saja harus beli di pasar, dan harganya mahal,” kata Afrida Burnama, warga Lelilef. Hernemus Takuling dari Lelilef Sawai memilih mempertahankan kebunnya: “Saya lebih memilih hidup sebagai petani daripada bekerja di tambang.” Nelayan kini harus melaut 20–30 km, padahal sebelumnya cukup sekitar 1 km.
Pembangunan yang memperlakukan warga sebagai subjek tidak cukup diukur dari nilai investasi dan jumlah pekerja. Ukurannya adalah apakah warga diajak memutuskan, diberi harga yang adil atas tanahnya, dan dijamin hidup sehat di kampungnya sendiri.
Tuntutan
Kami mendesak Presiden, Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Pemerintah Provinsi Maluku Utara, Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah, dan pengelola IWIP untuk:
- Menetapkan ganti rugi lahan warga setidaknya setara NJOP dan menyelesaikan sengketa luas lahan secara terbuka.
- Membuka data porsi pekerja lokal Halmahera Tengah dan Maluku Utara di kawasan IWIP.
- Menggelar pemeriksaan kesehatan warga secara independen, termasuk kadar logam berat dalam darah dan kasus ISPA.
- Menjamin air bersih sebagai hak warga, bukan bantuan perusahaan.
- Mengakui wilayah adat dan menjalankan prinsip persetujuan bebas, didahulukan, dan diinformasikan.
- Mengumumkan data resmi kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja di kawasan IWIP.
Penutup
“Pak Presiden, investor sudah Bapak sebut saudara. Kapan warga Halmahera Bapak sebut tuan rumah? Kami sudah mendengar pidato Bapak. Kini giliran Bapak mendengar mereka,” kata Natael Bremana WB, Presidium Gerakan Kemasyarakatan PP PMKRI 2026–2028.
Sumber
Data pembanding berasal dari BPS, riset lembaga independen, liputan media, dan kesaksian warga. Sebagian angka, seperti kasus ISPA, berbeda antar-sumber; kami memakai rentang yang konsisten dengan semua versi.
Data pembanding berasal dari BPS, riset lembaga independen, liputan media, dan kesaksian warga. Sebagian angka, seperti kasus ISPA, berbeda antar-sumber; kami memakai rentang yang konsisten dengan semua versi.
- ANTARA: Prabowo: Saya lihat masa depan Indonesia cerah
- ANTARA: Prabowo anggap investor yang percaya Indonesia sebagai saudara
- ANTARA: Pengembangan IWIP serap lebih dari 100 ribu tenaga kerja
- Okezone: Prabowo luncurkan 11 proyek hilirisasi senilai Rp180 triliun
- IDN Times: Prabowo ngaku punya darah Indonesia Timur
- Mongabay: Potret hilirisasi nikel Maluku Utara, pertumbuhan ekonomi buat siapa?
- Mongabay: Laporan sebut fenomena bunuh diri sampai mati mendadak buruh di Teluk Weda
- Mongabay: Jejak merkuri dan arsenik proyek hilirisasi nikel Halmahera
- Halmaherapedia: Di balik habisnya lahan dan kebun warga lingkar PSN
- Indonesiana: Derita warga Lelilef Sawai di pusaran tambang nikel
- TitaStory: Survival International soal suku O’Hongana Manyawa
- maluttv: Pekerja PT IWIP asal Tual tewas tertimpa besi H-Beam
- NuansaMalut: Peningkatan ISPA di Halmahera Tengah akibat hilirisasi nikel
- detikSulsel: 4 desa di Weda Tengah terendam banjir
- Kadera: Banjir besar terjang Weda
