Pintar Saja Tidak Cukup! Asta Sembiring Tantang PMKRI Melahirkan Pemimpin Berintegritas

0
WhatsApp Image 2026-10-16 at 22.32.19 (15)


PMKRI Nasional - JAKARTA, 16 Oktober 2026 -Indonesia tidak kekurangan orang pintar, tetapi masih membutuhkan pemimpin yang berintegritas, berani secara moral, dan setia memperjuangkan kepentingan bersama. Pesan tersebut disampaikan Ir. Asta Ivo Bonny Sembiring, S.T., Project Director Perum Perumnas Samesta Pasadana Bandung, dalam kegiatan Pekan Orientasi Fungsionaris (POF) Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI) Santo Thomas Aquinas Periode 2026–2028, Jumat (16/10/2026)
‎
‎Membawakan materi bertajuk “Navigating Adaptive Leadership Amid Waves of Disruption”, Asta menegaskan bahwa kualitas kepemimpinan tidak cukup diukur dari kecerdasan, jabatan, atau kemampuan berbicara, tetapi dari konsistensi antara nilai, keputusan, dan tindakan.
‎
‎“Yang dicari saat ini bukan orang yang hanya pintar saja, tetapi orang yang mempunyai integritas,” tegasnya.
‎
‎Menurut Asta, tantangan tersebut juga menjadi refleksi penting bagi PMKRI sebagai organisasi kader. Peran PMKRI tidak boleh berhenti sebagai mitra kritis dan strategis pemerintah, tetapi harus berfokus pada pembentukan manusia yang berkarakter, berjiwa Katolik, serta memiliki keberanian memperjuangkan kebenaran dan keadilan.
‎
‎“Tugas kita yang paling penting adalah melahirkan pendidikan kaderisasi yang di dalamnya terdapat jiwa kekatolikan itu sendiri,” ungkapnya.
‎
‎Ia menekankan bahwa nilai Kristianitas, Fraternitas, dan Intelektualitas harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Kaderisasi perlu menghasilkan pemimpin yang kritis sekaligus solutif, menjaga independensi organisasi, dan menempatkan martabat manusia di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
‎
‎Dalam konteks kepemimpinan organisasi, Asta mengangkat kearifan lokal Sunda melalui falsafah Siliwangi, serta nilai-nilai masyarakat Karo, seperti Endi Enta, Runggu, Ngeripe, dan Aron. Nilai-nilai tersebut menekankan kepemimpinan yang membumi, berorientasi pada masa depan, mengutamakan musyawarah, serta menghidupi solidaritas dan gotong royong.
‎
‎Ia juga menegaskan bahwa kepemimpinan kolektif-kolegial hanya dapat berjalan apabila setiap pengurus mengambil tanggung jawab secara nyata, menghargai perbedaan, dan mendahulukan kepentingan organisasi.
‎
‎Selain itu, transparansi dan integritas disebut sebagai fondasi kepercayaan serta independensi PMKRI. Keterbukaan dalam komunikasi, pengambilan keputusan, dan pengelolaan organisasi menjadi keharusan agar kritik terhadap negara memiliki legitimasi moral.
‎
‎“Kepemimpinan yang baik harus dibangun melalui transparansi,” ujarnya.
‎
‎Menghadapi perubahan sosial, politik, ekonomi, dan teknologi, Asta mengingatkan pentingnya kepemimpinan adaptif: kemampuan mengevaluasi kesalahan, memperbaiki strategi, dan tetap berpegang pada nilai dasar perjuangan. Adaptif bukan berarti kehilangan prinsip, melainkan memperbarui cara kerja agar tujuan bersama tetap tercapai.
‎
‎Bagi PP PMKRI Periode 2026–2028, POF diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kualitas kaderisasi, solidaritas internal, dan konsistensi gerakan. Regenerasi tidak boleh sekadar menjadi pergantian jabatan, tetapi harus melahirkan pemimpin yang mampu menjawab persoalan masyarakat dengan gagasan, integritas, dan tindakan nyata.
‎
‎Menutup pemaparannya, Asta menyampaikan tiga pesan kepada para fungsionaris PMKRI: tetap berjuang, terus berkembang, dan jangan menyerah.
‎
‎Pesan tersebut menegaskan bahwa tantangan terbesar PMKRI bukan sekadar melahirkan kader yang cerdas membaca perubahan, melainkan membentuk pemimpin berintegritas yang berani mengarahkan perubahan demi keadilan, kemanusiaan, dan kesejahteraan bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *